Rabu, 14 November 2012

Balasan Kejujuran



Bagi setiap muslim diperintahkan untuk berlaku amanah dan memiliki akhlaq yang baik serta yang terpuji. Barang siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya akan mendapatkan balasan yang setimpal, baik di dunia maupun di akhirat.
                Barang siapa yang meninggalkan khianat dan pekerjaan yang tercela lainnya karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, maka Allah akan menggantinya dengan kebaikan yang berlimpah.
                Ada seorang laki-laki yang membeli tanah perkebunan dari seseorang. Suatu ketika orang tersebut menemukan guci di areal tanah yang baru dibelinya itu. Guci tersebut ternyata berisi perhiasan emas yang cukup lumayan jumlahnya.
                Dengan segera orang itu menemui pemilik tanah sebelumnya, yang dulu menjual kepada dirinya. “Ambilah emasmu yang kutemukan, sebab aku hanya membeli tanah perkebunan, tidak termasuk membeli emas itu” katanya.
                “Aku menjual tanah itu berikut apa yang ada di dalamnya, maka guci emas itu pun sudah menjadi hakmu” jawab pemilik tanah sebelumnya menolak. Ia menganggap tanah yang dijualnya berikut apa yang ada di dalamnya sudah sah menjadi pemilik yang membelinya, meskipun ada barang berharga yang ia sendiri tidak tahu.
                Kedua orang itu saling tak mau menerima emas itu, mereka sama-sama menganggap bahwa barang itu bukan haknya. Akhirnya, mereka meminta keputusan hukum kepada orang lain, yang dianggap bijaksana dan mengerti.
                “Apakah kalian berdua mempunyai anak?” Tanya orang yang dimintai pendapat itu. “Aku memiliki seorang anak laki-laki” jawab orang yang membeli tanah itu. “Aku mempunyai seorang anak perempuan” sahut penjual tanah.
“Nikahkanlah anak laki-lakimu dengan anak perempuannya dan nafkahkanlah kepada keduanya emas itu, serta bersedekahlah” kata orang itu member nasihat.
(Abu Hurairah radiallahu ‘anhu meriwayatkan)
Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa beliau menyebut ada dua orang laki-laki Bani Israil yang terlibat percakapan serius.
Laki-laki Bani Israil yang satu meminta kepada laki-laki Bani Israil lainnya untuk memberinya pinjaman uang sebesar 1.000 dinar.
Orang yang hendak menghutangi itu berkata
“Carilah beberapa orang saksi, agar mereka menjadi saksi hutang piutang ini.”
“Cukuplah Allah sebagai saksiku” jawab orang yang hendak berhutang itu.
“Datangkanlah seseorang yang dapat menjamin kepercayaanku terhadap dirimu”
“Cukup Allah yang menjaminku.”
“Engkau benar!” kata orang yang hendak member pinjaman itu. Maka unag itu diberikan kepadanya untuk dikembalikan pada waktu yang ditentukan.
Orang yang berhutang itu kemudian pergi berlayar untuk suatu keperluan hingga beberapa lama. Karena hutangnya telah tiba waktunya untuk mengembalikan, seperti yang telah ditentukan. Ia kemudian mencari kapal yang bisa mengantarkan dirinya. Namun, orang itu tak menemukan kapal tersebut. Dia kemudian mengambil sebatang kayu dan ia lubangi, lalu dimasukkannya uang 1.000 dinar beserta sebuah surat ke dalamnya. Selanjutnya ia menuju ke pantai.
“Ya Allah, sunggguh engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepadanya sebanyak 1.000 dinar. dia memintaku seorang penjamin, maka kukatakan cukuplah Allah sebagai penjamin, dan ia pun rela. Dia juga meminta kepadaku saksi, maka kukatakan cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun rela” katanya dengan wajah menengadah.
“Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan kapal yang dapat mengirimkan kepadanya uang yang telah dipinjamkannya kepadaku, tetapi aku tak mendapatkan kapal itu. Karena itu, aku titipkan ini kepada-Mu”
Kemudian orang itu melemparkan kayu yang di dalamnya berisi uang dan surat itu ke laut, lalu ditinggalnya pulang.
Sementara itu, orang yang member pinjaman juga menantinya. Ia selalu menunggu kapal yang dating ke negerinya, barangkali orang yang telah diberinya pinjaman datang untuk mengembalikan tanggungannya.
Saat itu pun ia ke luar rumah menyusuri pantai untuk mencari tahu, barangkali ada kapal yang berlabuh dan membawa titipan uangnya. Tiba-tiba ia melihat kayu terapung-apung di pinggir pantai. Diambilnya kayu tersebut dengan maksud untuk dijadikan kayu bakar istrinya.
Ketika sampai dirumah, dibelahnya kayu itu. Dan alangkah terkejutnya lelaki itu, ternyata di dalam kayu itu terdapat uang 1.000 dinar dan sepucuk surat yang ditujukan kepada dirinya.
Beberapa hari kemudian datanglah orang yang berhutang itu ke rumahnya dengan membawa uang 1.000 dinar.
“Maaf aku telah melanggar janjiku. Demi Allah, aku telah berusaha mencari kapal agar bisa membayar hutangku tepat pada waktunya, tetapi aku tak mendapatkannya, dan baru sekarang aku bisa sampai disini” katanya.
“Bukankah kau telah mengirimkan uang itu dengan sesuatu?” Tanya orang yang member pinjaman itu.
“Bukankah sudah kuberitahukan kepadamu, bahwa aku kesulitan mencari perahu untuk bisa datang kemari” sahut peminjam itu tak mengerti.
“Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku dengan menggunakan sepotong kayu itu. Karena itu bawalah kembali uangmu, karena engka telah melunasinya” kata orang yang memberi pinjaman itu menerangkan.

Minggu, 04 November 2012

Motivasi Kehidupan






·         Hidup memberi kita banyak pelajaran, tergantung pada kita apakah kita mau mempelajarinya. (anonym)
·         Sukses dalam hidup tidak ditentukan oleh kartu yang baik, akan tetapi dari cara memainkan kartu buruk dengan baik. (Joshua Dool)
·         Tidak perlu menjelaskan. Teman-teman anda tidak memerlukannya dan musuh anda tak akan percaya. (Elbert Hubbard)
·         Orang tidak bisa mengubah kebenaran, tapi kebenaran dapat mengubah seseorang. (anonym)
·         Ada satu cara untuk melihat masa lalu. Jangan sembunyi darinya. Dia tidak akan menangkap anda jika anda tidak mengulanginya. (Pearl Bailey)
·         Pertumbuhan dimulai ketika kita mulai menerima kelemahan-kelemahan kita sendiri. (Jean Vanier)
·         Anda dapat menemukan apa yang paling ditakuti musuh anda dengan mengamati kekerasan yang digunakannya untuk menakuti anda. (Eric Holfer)
·         Tak ada orang yang sempurna. Orang yang mau belajar dari kesalahan adalah orang yang bijaksana. Yang menyedihkan adalah yang berkeras dirinya benar, kendati terbukti salah. (Pepatah Kuno)
·         Jika seseorang punya bakat dan tidak menggunakannya, ia gagal. Jika ia punya bakat dan hanya menggunakan setengahnya, ia setengah gagal. Jika dia punya bakat dan belajar menggunakan sepenuhnya, ia sukses besar dan mendapat kebahagiaan serta kemenangan yang hanya dikenal sedikit orang. (Thomas Wolfe)
·         Separuh dari dunia terdiri dari orang-orang yang punya sesuatu untuk dikatakan, tapi tak dapat mengatakannya. Separuh yang lainnya tak punya sesuatu untuk dikatakan, tetapi terus berkata. (Robert Frost)
·         Orang mungkin meragukan apa yang anda katakan, tapi mereka akan percaya apa yang anda lakukan. (Lewis Cass)
·         Terima dan ampuni kesalahan. Orang yang diampuni dan diberi kesempatan untuk menggali dan mengembangkan potensi berkemungkinan memberi yang terbaik. Orang yang hanya melihat kesalahan saja itu picik. (Pepatah Kuno)
·         Hilangkan pikiran negative dengan kerja keras. (anonym)
·         Pemimpin sejati bukan orang yang mempunyai banyak pengikut, tapi yang menciptakan paling banyak pemimpin. (Neale Donald Walsch)
·         Tiga hal yang bisa membuat seorang murid mengungguli gurunya adalah: ajukan pertanyaan, ingat jawaban-jawabannya, dan ajarkan. (Jan Amos Comenius)
·         Kebaikan lebih baik dari kebijakan, dan menyadarinya adalah awal dari kebijaksanaan. (Theodore Isaac Rubin)
·         Satu hal yang banyak menghabiskan banyak waktu adalah banyak musuh. (E.B. White)
·         Anda harus terus meningkatkan keahlian, tapi jangan berpikir seperti ahli. (Denis Waitley)
·         Siapapun yang berhenti belajar itu tua, apakah ia berumur 28 tahun atau 80 tahun. Siapapun yang terus belajar akan tetap muda. Hal terbaik dalam hidup ini adalah membuat pikiran tetap muda. (Henry Ford)
·         Kita bisa melempar batu. Mengeluh tentang batu, tersandung batu, naik di atas batu, atau membangun dengannya. (William Arthur Ward)
·         Orang yang bekerja bukan demi kecintaan pada pekerjaan tapi hanya semata-mata demi uang, berkemungkinan kecil mendapatkan banyak uang dan menemukan kegembiraan dalam hidup. (Charles Schawb)
·         Ingredian paling penting adalah, angkat bokong dan lakukan sesuatu. Cuma sesederhana itu saja. Banyak orang puny aide, tapi hanya sedikit yang memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang itu sekarang ini. Entrepreneur sejati adalah doer. (Nolan Bushnell)
·         Jangan jadikan gaji tinggi sebagai tujuan. Carilah pekerjaan yang anda sukai dan gaji tinggi akan dating dengan sendirinya. (Harding Lawrence)
·         Anda bosan dengan hidup anda? Terjunkan diri anda ke dalam pekerjaan yang anda yakini dengan sepenuh hati. Hidup dan mati untuk pekerjaan itu, dan anda akan menemukan kebahagiaan yang anda piker tak pernah akan menjadi milik anda. (Dale Carnegie)
·         Kejujuran adalah kualitas spiritual yang tak bisa dinilai dengan uang. (anonym)
·         Menjadi orang jujur memerlukan usaha yang jauh lebih kecil dibanding menjadi orang yang penuh kepalsuan. Resiko jangka panjangnya juga lebih kecil dan penghargaan yang didapat akan lebih besar. (anonym)
·         Dengan standar yang anda tentukan sendiri, anda dapat secara cepat dan mudah menetapkan tindakan yang tepat saat menghadapi masa sulit. (anonym)
·         Perubahan biasanya terjadi ketika kita menyadari, bahwa satu-satunya orang di dunia yang menentukan apakah kita sukses atau gagal adalah diri kita sendiri. (anonym)
·         Tak seorang pun bisa menjadi pemimpin hebat kecuali dia bisa ikut senang secara tulus atas sukses orang-orang di bawahnya. (W.H. Auden)
·         Anda tak akan meraih sukses sejati jika tidak mencintai apa yang anda kerjakan. (Dale Carniage)
·         Saran hadiah: untuk musuh, maaf. Untuk penentang, toleransi. Untuk sahabat, hati anda. Untuk pelanggan, pelayanan. Untuk semua orang, kemurahan hati. Untuk setiap anak, contoh yang baik. Untuk diri sendiri, respect. (Oren Arnold)
·         Orang yang optimistic tertawa untuk melupakan. Orang pesimistik lupa tertawa. (Anonim)
·         Kantong kosong tak pernah menghambat kemajuan anda. Yang bisa menghambat adalah kepala kosong dan hati yang kosong. (anonym)
·         Semua orang tersenyum dengan bahasa yang sama. (anonym)
·         Jika ingin sukses, anda harus pergi ke jalan baru, daripada turun ke jalan yang sudah dilalui untuk meraih sukses. (John D. Rockefeller)
·         Orang yang meninggalkan rumah untuk mencari kebahagiaan hanya akan mengeja bayangan. (anonym)
·         Langkah pertama untuk akuisisi kebijaksanaan adalah dengan hening, kedua dengan mendengarkan, ketiga mengingat, dan keempat praktik, kelima mengajari orang lain. (Solomon Ibn Gariol)
·         Salah satu cara menjadi juara adalah dengan bertindak seperti juara. Anda harus belajar cara menang dan tidak lari ketika kalah. Semua orang pernah gagal dan pernah meraih sukses, anda harus hati-hati agar tidak kehilangan percaya diri atau menjadi terlalu percaya diri. (Nancy Kerringan)
·         Alasan adalah paku yang digunakan untuk membangun rumah kegagalan. (Don Wilder)
·         Selesaikan tugas sebaik hal-hal yang anda sukai dan sukses akan menjadi milik anda. (anonym)
·         Bisnis yang tidak menghasilkan apa-apa selain uang adalah bisnis yang buruk. (Henry Ford)
·         Di sepanjang jalan menuju sukses terdapat banyak tempat parker yang menggoda. (Pepatah Tradisional)
·         Bisnis hanya punya dua fungsi: pemasaran dan inovasi. (Peter F. Drucker)
·         Pekerjaan besar biasanya diberikan kepada orang-orang yang telah membuktikan bisa mengerjakan pekerjaan kecil. (Ralph Waldo Emerson)
·         Masa depan kita tergantung pada apa yang kita lakukan pada saat ini. (Mahatma Gandhi)
·         Semua bisnis dibangun atas dasar persahabatan. (J.C. Penney)
·         Hadapi masalah sebagai bagian yang tak terelakkan dari hidup dan jika masalah dating, tegakkan kepala. Tatap masalah langsung di matanya dan katakan, “Saya lebih besar dari kamu. Kamu tak akan bisa mengalahkan saya.” (Ann Landers)
·         Orang yang tak punya wajah senyum harusnya tak usah buka took. (pepatah cina)
·         Anda tak ingin orang lain tahu apa yang anda lakukan? Lebih baik jangan melakukannya. (Pepatah Cina)
·         Jangan meletakkan ego anda terlalu dekat dengan posisi anda. Jika posisi anda turun, ego anda turun bersamanya. (Colin Powell)
·         Tak ada elevator menuju sukses. Anda harus naik tangga. (anonym)
·         Burung yang terlalu banyak berkicau tidak membuat sarang. (Pepatah Afrika)
·         Kreativitas berasal dari kepercayaan. Percaya pada insting-insting anda. Dan jangan mengharap lebih dari yang anda kerjakan. (Rita Mae Brown)
·         Kita semua berada dalam samudera kemungkinan. Sebagian berenang, sebagian tenggelam, sebagian berenang lebih baik dari yang lainnya. Mereka adalah creator alam semesta. (Greg Fergu)
·         Pemimpin besar dihormati bukan karena kekuasaan, tapi karena apa yang telah dilakukan. (Pepatah Kuno)
·         Menyalahkan kebaikan orang lain menciptakan banyak musuh. (anonym)
·         Membuat took iktu mudah, membuatnya tetap buka itu seni. (Pepatah Cina)
·         Memperhatikan hal-hal kecil yang sederhana dan diabaikan sebagian besar orang, membuat segelintir kecil orang menjadi kaya. (Henry Ford)
·         Pada akhirnya, semua operasi bisnis bisa dirangkum menjadi tiga kata: orang, produk, dan profit. Jika tak punya orang yang baik, kita tak bisa berbuat banyak untuk meraih dua yang lainnya. (Lee Lococca)
·         Iri dengan kesuksesan orang lain akan mendatangkan kehancuran pada diri sendiri. (Pepatah Kuno)
·         Anda dapat melakukan apa pun jika punya antusiasme. Yaitu ragi yang membuat harapan menjulang ke bintang-bintang. Dengan antusiasme, aka nada prestasi. Tanpa antusiasme, yang ada hanyalah alibi. (Henry Ford)
·         Kelemahan terbesar kita terletak pada menyerah. Jalan paling pasti untuk sukses adalah selalu mencoba sekali lagi. (Thomas Alfa Edison)
·         Sesungguhnya bukan gunung yang kita taklukan, tapi diri kita sendiri. (Anonym)
·         Jika Anda dapat memimpikan sesuatu, maka Anda pasti bias menggapainya. (anonym)
·         Belajar bukanlah suatu kewajiban, akan tetapi belajar adalah kebutuhan. (anonym)
·         Jangan menunggu besok apa yang kita dapat kerjakan hari ini. (anonym)
·         Anda tidak akan pernah tahu apa yang telah anda miliki sampai suatu saat ia menghilang. (anonym)
·         Jika Anda berpikir kecil, maka Anda akan tetap kecil. (anonym)
·         Ketika salah satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain akan terbuka. (anonym)
·         It’s hom you deal with failure that determines how you achieve success.
Bagaimana kamu menghadapi suatu kegagalan akan menentukan bagaimana kamu meraih kesuksesan. (anonym)
·         Rasa takut bukanlah untuk dinikmati, akan tetapi untuk dihadapi. (anonym)
·         Sukses bukanlah suatu tujuan, tetapi sukses itu adalah akibat dari perbuatan. (anonym)
·         Jangan takut untuk mengambil satu langkah besar jika memang diperlukan. Anda takkan bisa meloncati sebuah jurang dengan dua lompatan kecil. (anonym)
·         Kesempatan itu tidak untuk dicari, melainkan untuk diciptakan. (anonym)
·         Keberuntungan ialah bertemunya persiapan dengan kesempatan. (anonym)
·         Hidup adalah sebuah pilihan. Tentukanlah pilihanmu sebelum pilihan menentukan hidupmu. (anonym)
·         There are those who dream when they sleep. Then there are those who stay awake to achieve their dreams.
Ada orang-orang yang bermimpi ketika mereka tertidur. Kemudian ada orang-orang yang tetap terjaga untuk meraih mimpinya. (anonym)
·         Life isn’t about waiting for the storm to pass, it’s about how to dance in the storm.
Hidup bukanlah tentang menunggu kapan badai berlalu, tetapi belajar bagaimana menari di dalam badai tersebut. (anonym)
·         Nothing great was ever achieved without enthusiasm.
Tidak ada sesuatu yang hebat dapat diraih tanpa semangat yang besar. (anonym)
·         The only way to finding the limit of the possible is by going beyond them into the impossible.
Satu-satunya cara untuk menentukan batas kemungkinan adalah dengan cara keluar dari keterbatasan tersebut menuju ketidakmungkinan. (anonym)
·         If you do not hope, you will not find what is beyond your hope.
Jika kamu tidak berharap, kamu tidak akan pernah tahu ada apa dibalik harapanmu. (anonym)
·         Don’t limit your challenges, but challenge your limit.
Jangan batasi tantanganmu, tapi tantanglah keterbatasanmu. (anonym)
·         The best way out is always pass it.
Jalan keluar terbaik adalah dengan melewatinya. (anonym)
·         You can do what you want to do, you can be what you want to be.
Anda bisa melakukan apa yang Anda ingin lakukan, Anda bisa menjadi apapun yang anda inginkan.
·         God give every bird it’s food. But does not always drop it into the nest.
Tuhan member makan kepada setiap burung, tapi tidak pernah langsung menjatuhkannya ke dalam sarang. (anonym)
·         Optimism is the faith that leads to achievement, nothing can be done without hope and confidence.
Optimisme merupakan suatu keyakinan yang mengarahkan pada pencapaian sukses, tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan. (anonym)
·         No one can make you feel inferior without your consent.
Tak seorangpun dapat membuat kamu rendah tanpa izinmu. (anonym)


Selasa, 30 Oktober 2012

ROMAN ATHEIS





                Kartini keluar dari kantor kemiliteran Jepang. Perempuan itu lesu seperti orang yang sudah tidak ada gairah hidup dan penuh penyesalan. Kami bertiga tak berkata apa-apa. Rusli membimbing perempuan yang lemah dan bermandikan air mata itu. Kami kini meninggalkan tempat itu tanpa harapan apapun. Hasan ternyata telah wafat. Hasan tidak dapat menahan penyakit TBC dan siksaan algojo tentara Jepang. Padahal  belum seminggu yang lalu mereka menyerah pada kaum Sekutu dan Rusia. Tidak ada yang tahu kapan pastinya Hasan wafat, dan di mana ia dikuburkan.
                Sore itu aku hanya menganggur di rumahku. Itulah awal perkenalanku dengan Hasan. Ia mendatangi rumahku, sama halnya dengan tamu-tamu lain. Akan tetapi, ia langsung mencurahkan seluruh kepercayaannya kepadaku layaknya seorang sahabat sejati. Satu bulan kemudian, ia kembali ke rumahku. Ia membawa setumpukan kertas dan menyerahkannya kepadaku. Ternyata itu adalah sebuah karangan miliknya. Aku membacanya semalaman hingga tamat. Dan beginilah ceritanya.
                Di lereng gunung Telaga Bodas, terdapat sebuah kampung yang diberi nama Kampung Panyeredan. Disanalah orang tuanya, Raden Wiradikarta tinggal. Ayahnya adalah seorang pensiunan kepala sekolah SD. Orang tuanya termasuk orang alim. Oleh karena itu, Hasan dari kecil sudah di didik dalam lingkungan agama. Suatu hari, orang tuanya pergi ke Banten untuk mempelajari ilmu tarekat atau mistik. Mereka berangkat pagi-pagi sekali dan tidak memperbolehkannya ikut. 
                Ayahnya memiliki empat orang anak, akan tetapi hanya Hasan yang tersisa karena yang lain telah meninggal. Oleh karena itu, orang tuanya mengangkat anak yatim yang bernama Fatimah. Mereka tidak di beda-bedakan, dan sangat di sayangi oleh orang tua Hasan. Tetapi, tidak membuat mereka menjadi anak yang manja. Setiap hari, Hasan selalu diceritakan tentang siksa neraka. Itulah yang membuatnya takut, dan selalu rajin beribadah sejak kecil. Setelah Hasan dewasa, ia memberi tahu orang tuanya bahwa ia ingin mempelajari ilmu tarekat yang dianut orang tuanya. Hal itu membuat mereka bangga, hingga meneteskan air mata. Mereka yakin dengan begitu Hasan tidak akan terjerumus ke jalan yang salah. Terlebih lagi Hasan telah di terima bekerja di kantor Kotapraja, Bandung. 
                Demikianlah ia berguru tentang ilmu tarekat. Setiap hari ia sembahyang, berpuasa, mandi di kali Cikapundung empat puluh kali semalam, dan lain-lain. Tapi tak jarang juga ia menjadi sakit. Bahkan, dokter melihat tanda-tanda penyakit TBC di paru-parunya. Untung baginya, paru-parunya belum terluka sehingga ia boleh pulang.
                Waktu telah menunjukkan pukul satu lebih, tapi ia masih melayani beberapa orang. Pada akhirnya, tersisa seorang laki-laki dan perempuan. Betapa kagetnya ia, ternyata laki-laki itu adalah sahabat karibnya sejak kecil. Orang itu bernama Rusli, dan yang perempuan bernama Kartini. Dulu, Rusli sebenarnya adalah orang yang nakal dan tidak tahu mengenai agama karena sejak kecil dia jarang diperhatikan oleh orang tuanya. Sedang, Kartini belum pernah dikenalnya. Akan tetapi, Hasan jatuh cinta kepada Kartini pada pandangan pertama. Mereka berbicara sangat singkat karena sedang tergesa-gesa.
                Beberapa hari berikutnya Hasan pergi ke rumah Rusli setelah Rusli memberikan alamatnya, yaitu di jalan Kebon Manggu 11. Mereka membicarakan pengalaman masing-masing setelah lama berpisah. Rusli tertarik kepada pergerakan politik. Dan ia juga sering berpindah tempat dari Tasikmalaya, Singapura, Jakarta, dan sekarang di Bandung. Mereka mengobrol sambil merokok. Entah kenapa, pada akhirnya Rusli menceritakan tentang Kartini. Sejak Kartini berumur tujuh belas tahun, dia dipaksa ibunya menikah dengan rentenir  Arab yang kaya. Dengan begitu, ibunya mendapat sebagian harta dari orang Arab tersebut. Setelah ibunya meninggal, Kartini mendapat semua harta warisan dan kemudian melarikan diri. Ia meminta perlindungan kepada Rusli, dari kejaran orang Arab tersebut. Itulah riwayat hidup Kartini.
                Hari telah sore, Hasan berpamitan kepada Rusli. Hasan tinggal dengan bibinya, di Sasakgantung 18. Selesai sholat isya, ia terbayang wajah Kartini. Tapi entah kenapa, ia merasa bahwa Kartini mirip dengan Rukmini. Rukmini adalah kekasih Hasan di masa lalu. Mereka berpisah karena orang tua mereka kelihatannya tidak setuju. Orang tua Hasan ingin ia menikah dengan orang bangsawan yang sama sepertinya. Sedangkan orang tua Rukmini ingin anaknya menikah dengan orang yang biasa saja. Mereka takut anaknya, Rukmini akan dijadikan babu oleh suaminya. Sehingga Hasan dan Rukmini harus berpisah.
                Seperti layaknya kiyai, Hasan ingin sekali mengislamkan Rusli dan Kartini karena Hasan tahu bahwa mereka tidak memiliki pegangan. Setelah bertekad bulat ingin mengislamkan mereka berdua, Hasan menyusun persiapannya. Beberapa hari kemudian, Hasan kembali ke rumah Rusli dengan perasaan dapat mengislamkannya. Setibanya di sana, Rusli menyambut dengan ramah. Hasan kemudian mengungkapkan tujuannya yang sebenarnya. Namun, dengan tenang Rusli menjawab. “Tuhan itu tidak ada.” Rusli menguraikan bahwa Tuhan itu buatan manusia sendiri. Orang zaman dahulu banyak mendapat musibah yang dapat menyebabkan kematian. Hal itulah yang membuat mereka merasa ada yang lebih berkuasa dari mereka, sehingga timbul kepercayaan kepada hal gaib. Jadi, Tuhan ada karena ketidak sempurnaan hidup. Karena jika hidup itu sempurna, semua kebutuhan akan terpenuhi dan tidak akan meminta kepada Tuhan lagi. Hasan merasa hancur, tidak tahu akan berkata apa-apa lagi. Rusli langsung meminta maaf karena merasa bersalah telah menyinggung perasaannya.
                Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Hasan tidak dapat lepas dari kejadian tadi. Di rumah, masih dapat terbayang  dengan jelas uraian dari Rusli tersebut. Ia ingat pesan ayahnya bahwa ia harus hati-hati dalam bergaul. Namun ia tidak ingin berpisah dengan Rusli, ataupun Kartini. Dengan yakin ia berkata dalam hati, “Aku boleh bergaul dengan mereka, asalkan aku tidak ikut cara hidup mereka. Cara hidup Atheis.”
                Keesokan harinya, Hasan tidak masuk bekerja. Ia duduk diatas kursi di bawah sinar matahari pagi. Tidak di sangka, Rusli datang bertamu di hari itu. Seperti biasa, selalu ada rokok. Akan tetapi kali ini Hasan lebih membatasi konsumsinya karena teringat penyakitnya. Mereka bercakap-cakap seperti tidak ada masalah apapun yang telah terjadi. Rusli langsung ke intinya, Ia mengajak Hasan ke rumah Kartini. Hasan sangat senang mendengarnya, ia segera mengganti pakaian dan berangkat bersama Rusli. Setelah tiba dirumah Kartini, yaitu dijalan Lengkong Besar 27. Terlihat rumah Kartini yang besar dengan perabotan modern didalamnya. Setelah puas bercakap-cakap, Hasan dan Rusli disuguhi makanan yang sangat banyak hingga memenuhi satu meja makan. Mereka makan dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan. Maklum, Hasan sering berpusa bahkan hingga malam. Ketika ditanya Rusli, makanan-makanan tersebut dipesan dari mana, Kartini menjawab dari restoran Wang Seng. Mereka berdua tertawa bersama-sama. Tiba-tiba, Hasan berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya. Rusli dan Kartini panik. Rusli membawa Hasan ke kamar, dan Kartini menyiapkan kompres. Setelah selesai, Rusli dan Kartini kembali ke meja makan. Rusli beranggapan bahwa Hasan muntah karena mengira makanan itu adalah makanan Cina. Padahal Wang Seng itu tidak ada, melainkan Wangsa. Mendengar hal  itu, Hasan keluar dan meminta maaf karena telah membuat khawatir.
                Hari sabtu, Hasan pulang jam satu siang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Hasan dan Kartini. Karena waktu itu adalah jam untuk makan siang, mereka makan bersama di restoran terdekat. Ketika hendak makan, seorang laki-laki menghampiri tempat mereka. Orang itu adalah Anwar, teman Rusli yang baru pindah ke Bandung. Ia adalah orang yang jujur. Meskipun begitu, ia sering menyinggung hati orang lain. Hasan sangat cemburu melihat lirikan mata Anwar terhadap Kartini. Entah kenapa, pada percakapannya, dia menyebut dirinya Tuhan. Hasan sangat terkejut dan geram. Tapi ia hanya diam saja. Rusli hanya tersenyum, seakan-akan telah sering mendengarnya. Anwar berkata seperti itu karena ia yakin manusia itu mampu mengendalikan semuanya. Sehabis makan, mereka berpamitan dengan Anwar.
                Waktu terus berlalu, seakan tak kenyang menelan hari, bulan, bahkan tahun. Pergaulan Hasan dengan orang-orang itu semakin erat, apalagi dengan Kartini dan Rusli. Akan tetapi, ia sekarang jarang beribadah. Sembahyang kadang-kadang, berpuasa terlupakan. Hasan sering mengikuti pertemuan dengan mereka. Dalam pertemuan itu biasanya dibahas mengenai paham-paham Atheis. Yang biasanya menjadi ketua diskusi adalah Bung Parta. Malam harinya Hasan dan Kartini menonton bioskop. Bioskop bubar pada pukul sebelas malam. Mereka berdua berjalan bersama, dan berhenti di sebuah taman. Mereka duduk berdua, di saksikan cahaya bulan. Pada malam itu semuanya tercurahkan tentang perasaan, dan di akhiri dengan pelukan.
                Di pagi hari, Anwar dan Hasan dijemput delman. Hasan akan pulang kampung, tapi tak enak untuk menolak Anwar yang mau ikut. Sesampainya disana, Hasan disambut haru oleh orang tuanya. Ia membungkuk bersalaman cara sunda dengan ayahnya. Sedang Anwar hanya berjabat tangan. Di ruang tamu, Fatimah keluar dengan senyum-senyum, dan pergi membereskan kamar untuk mereka berdua. Ayah Hasan bertanya pada Anwar, “Siapa orang tua anak?” “Ayah saya seorang Bupati pensiun”, jawab Anwar. Mendengar hal itu, orang tua Hasan menunjukkan rasa hormatnya. Tetapi Anwar melarang mereka berperilaku seperti itu. Anwar mengatakan bahwa kita semua adalah manusia, yang memiliki derajat yang sama. Hasan kemudian mengantar  Anwar ke kamar. Karena waktu itu sudah waktunya sembahyang Ashar,maka dengan segera Hasan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sembahyang. Anwar melihat Hasan sembahyang. Setelah selesai Hasan sembahyang, Anwar mengatakan bahwa Hasan adalah penipu. Menipu dirinya sendiri. Dirumahnya ia tidak sembahyang, tapi di rumah orang tuanya ia tiba-tiba menjadi alim. 
                Di tengah malam yang gelap, Hasan dan Anwar keluar untuk melihat sekeliling. Tiba-tiba mereka bertemu dengan dua orang lelaki. Ternyata mereka berdua adalah petugas keamanan Desa Penyeredan, Pak Artasan dan Pak Ahim yang sedang melakukan ronda keliling. Percakapan pun terjadi, Pak Artasan lalu bercerita tentang istrinya yang telah meninggal karena dinikahi Mbah Jambrong, makhluk gaib menurut cerita warga setempat. Entah dari mana percakapan itu bermula, tapi Anwar langsung membantah adanya hal seperti itu. Anwar mengajak mereka ke tempat kuburan Mbah Jambrong untuk membuktikan bahwa mahluk gaib itu tidak ada. Tetapi, tidak ada satu orang pun yang berani kesana tengah malam. Setelah lama dipaksa, mereka pun akhirnya ikut. Tetapi, tukang ronda itu hanya menunggu di depan, sehingga tinggal Hasan dan Anwar saja yang masuk kedalam. Ketika begitu dekat dengan kuburan Mbah Jambrong, Hasan yang sudah dari awal tidak berani, lari pontang-panting keluar kuburan mengejar Pak Artasan dan Pak Ahim yang sedang menunggu diluar kuburan. Ketika sedang berlari, tiba-tiba sendal Hasan terlepas dan terlempar entah kemana. Anwar pun mengurunkan niatnya melihat kuburan tersebut. Mereka kemudian pulang untuk beristirahat.
                Keesokan harinya, Anwar dan Hasan kembali untuk mencari sendal Hasan yang tak tahu kemana. Setelah menemukannya, mereka lalu pergi ke kuburan Mbah Jambrong. Anwar berteriak memanggil, dan menendang pendupaan hingga berhamburan semut di dalamnya. Tetapi, tak ada yang keluar dari kuburan. Anwar hanya ingin membuktikan Mbah Jambrong itu tidak ada. Malam terakhir, Hasan bertengkar dengan ayahnya. Hal itu dimulai ketika ayahnya menyuruhnya menikahi Fatimah. Tetapi Hasan menolak. Ia lalu menceritakan semuanya. Ia mengatakan tentang dirinya yang menjadi Atheis yang membuat ayahnya sangat terpukul.  Itulah yang menjadi beban pikiran sepanjang perjalanan pulang ke Bandung.
                Sesampainya di Bandung, beberapa hari kemudian Hasan dan Kartini menikah. Keharmonisan rumah tangga tak bertahan lama. Orang tua Hasan mengirim surat yang mencela pernikahan mereka, dan tidak disengaja di baca oleh Kartini. Ditambah lagi dengan fitnah bahwa Hasan dan Fatimah bertemu di sebuah hotel. Kartini sekarang jarang di rumah. Sedangkan Hasan terus sakit-sakitan.
                Waktu menunjukan pukul tiga pagi, aku tamat membaca naskah Hasan itu. Aku tidak mengira orang yang berpenyakit TBC itu memiliki pengalaman seperti ini. Beberapa hari kemudian Hasan datang kembali. Mukanya makin pucat, batuknya makin sering, badannya hampir kering. Ketika aku menyebutnya Atheis, ia menolak. Karena sekarang ia merasa akan wafat, dan takut akan siksaan neraka. Setelah melakukan percakapan panjang, di mana aku memberi jawaban menurut fahamku, ia hanya mengangguk. Dia berkata senang mendengarku menjawab masalah dalam naskah.
                Sejak malam itu, aku tak pernah mendengar lagi mengenai kabarnya. Hingga suatu hari aku mengetahui ia telah bercerai dengan Kartini dan di tangkap tentara Jepang. Tapi kenapa? Aku tidak tahu. Pada faktanya, sekarang ia telah tiada. Aku mengingat-ngingat naskahnya dan mencoba melaksanakan wasiatnya, yaitu menyunting naskah tersebut. Aku kemudian berencana untuk melanjutkan naskah itu dengan meminta keterangan orang yang terkait. Dan beginilah lanjutannya.
                Sore hari setelah menampar Kartini karena pulang telat, Kartini mengemasi barang-barangnya dan pergi dari sana tanpa tujuan. Dijalan, ia bertemu Anwar yang langsung mengajaknya ke hotel. Setelah sampai di hotel, Anwar dan Kartini langsung menuju kamar. Percakapan pun terjadi diantara mereka. Ketika percakapan belum selesai, Anwar menggoda Kartini. Memeluk Kartini dan ingin melampiaskan nafsunya. Beruntung, Kartini dapat keluar dan langsung pergi ke rumah Rusli.
                Hasan pun insyaf, ia juga mengemasi pakaiannya dan pergi keluar rumah. Padahal tubuhnya sudah tak kuat lagi. Di tengah perjalanan sirine berbunyi, semua orang mencari perlindungan termasuk Hasan. Ia berlindung di dalam sebuah lubang yang penuh orangnya beserta seorang keibodan. Di dalamnya ia merenungkan kejadian yang menimpanya.
                Kira-kira seminggu yang lalu Fatimah mengirim sebuah telegram yang isinya bahwa orang tua Hasan sedang sakit. Terutama ayahnya. Hasan yang segera pulang kampung, duduk di sebelah ayah yang sudah tidak ia kenali lagi keadaannya. Namun, dengan suara berbisik ayahnya mengusir Hasan. Hasan meneteskan air mata, duduk di luar kamar ayahnya. Ia mendengar hembusan nafas terakhir ayahnya.
                Tak terkira air matanya telah membasahi pipinya. Ia menghapus air matanya dan berpikir dengan tenang. Ayah telah tiada, kenapa Tuhan masih ada? Tuhan menciptakan semuanya, termasuk binatang prasejarah. Padahal kata mereka itu adalah buatan manusia. Lantas siapa yang menciptakan mereka selain Tuhan? Jika manusia mati apa Tuhan ikut mati? Lalu bagaimana dengan hewan yang bisa hidup tanpa manusia, apa dapat bertahan tanpa Tuhan? Hasan bersedih, kenapa ia tidak memikirkannya dari dulu. Tapi dengan segera kembali menegakkan dirinya. Ia bertanya bagaimana ia bisa menebus dosanya? Yang sesat tanpa arah. Dengan insyaf, tasbih kembali dalam genggamnnya.
                Sirine aman kembali berbunyi. Hasan berniat menginap di hotel, dan bertemu dengan pembantu yang bernama Amat. Setelah memesan kamar, ia beristirahat di kamar 8. Ia mengisi keterangan di sebuah buku. Setelah selesai, ia memeriksa daftar yang ada pada buku tersebut. Ia terkejut ketika melihat nama “Anwar dengan istrinya.” Padahal ia yakin bahwa Anwar belum menikah. Kata Rusli Anwar pernah dikeluarkan dari sekolah karena berbuat tidak senonoh kepada wanita Balanda. Anwar juga pernah berkata percabulan itu hidup sesungguhnya. Hasan merasa takut melihat tanggalnya, yaitu tanggal pertengkarannya dengan kartini. Ia bertanya kepada Amat, yang kebetulan mengetahui kejadian tersebut. Akhirnya, yakinlah ia bahwa itu adalah kartini. Tanpa pikir panjang ia berlari keluar hotel. Belum jauh dari hotel kembali terdengar sirine bahaya. Akan tetapi Hasan tetap berlari. Dan tiba-tiba  Tar!Tar! aduh. Ternyata, peluru telah menembus pahanya sebelah kiri. Darah berhamburan dan ia sudah tidak bergerak lagi. Pada saat itu, ia disangka mata-mata oleh tentara jepang. Lalu, dia dibawa ke kantor tentara Jepang untuk disiksa.


               
                 
                        
Unsur Intrinsik Roman Atheis

·         Tema                     : Pengaruh paham Atheis yang menggoyahkan keimanan seseorang.
·         Penokohan         :

a)      Hasan
Tokoh protagonis. Ia seorang anak pensiunan kepala sekolah SD. Ia tergolong sebagai pemuda yang taat dan patuh terhadap kedua orang tuanya dan pada perintah agamanya. Namun, ia tidak mempunyai pendirian yang tidak tetap sehingga mudah terpengaruh oleh keadaan sekitarnya terutama paham atheis yang dibawa oleh temannya.
b)      Kartini
Teman Rusli dan ia seorang janda mantan istri keempat dari rentenir Arab yang menjadi atheis pula. Ia seorang istri yang mencintai suaminya. Namun, karena ia terlalu sibuk ia mulai melupakan kehadirannya sebagai istri dan rumah tangganya akhirnya tidak dapat berlangsung lama karena kecemburuan Hasan. Dia juga termasuk orang yang sopan dan baik.
c)       Rusli
Sahabat Hasan dari kecil. Ia sahabat yang pintar dalam berbicara dan sangat dekat dengan Hasan. Ia dapat mempengaruhi Hasan dalam pergerakkan yang berpaham Atheis.
d)      Raden Wiradikarta
Orang tua Hasan yang memiliki wibawa yang tinggi dalam mendidik anaknya dalam agama, dan ia pun taat beribadah.
e)      Anwar
Teman Rusli dan Kartini yang sangat berpengaruh sehingga menyebabkan kecemburuan Hasan pada Kartini karena mereka selalu terlihat bersama. Ia orang yang jujur meskipun suka menyakiti hati orang lain.

                      
·         Alur                        : Mundur-maju
Artinya pada awalnya menceritakan suatu akhir, dan pada karangan Hasan awalnya merupakan perkenalan.
·         Latar                      : Kampung Penyeredan Garut, jalan Kebon Manggu 11, Lekong Besar 27 dan beberapa tempat di Bandung.
·         Sudut Pandang : Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.
·         Bahasa                  : Bahasa Melayu, Belanda, dan Jepang.
·         Amanat                                :
a)      Tanamkanlah keimanan kita agar memiliki pondasi iman yang kuat.
b)      Teguhkan pendirian kita agar tidak mudah terpengaruh dengan keadaan dunia luar yang bertentangan dengan kepercayaan kita.
c)       Pandai-pandailah memilih teman bergaul.
d)      Jangan mudah percaya dengan apa yang kamu dengar sebelum mengetahui kebenarannya.
e)      Dan lain-lain.
·         Nilai Adat             :
a)      Di Sunda, jika kita bertemu dengan orang yang lebih tua maka kita harus bersalaman dengan adat Sunda.
b)      Di Sunda, kebanyakan orang meletakkan dupa disamping kuburan orang yang meninggal.
c)       Dan lain-lain.